TAG

Ini "Oleh-oleh" Startup Surabaya Setelah Berkunjung ke Silicon Valley

Startup asal Surabaya "Delihome" yang sebelumnya memenangkan kompetisi "Startup Sprint" berkunjung selama empat hari ke Sillicon Valley. Ada banyak pelajaran dan pengalaman yang mereka bawa dari sana.

Minggu, 7 Februari 2016 | 11:14 WIB

Startup Sprint Startup Sprint

Layanan pengiriman makanan "Delihome" menjadi representatif startup dari Surabaya untuk unjuk gigi di Silicon Valley, AS. Sebelumnya, startup yang didirikan Andree Wijaya, James Junianlie, dan Elisabeth Be tersebut telah memenangkan kompetisi "Startup Sprint".

Tim Delihome menjelajahi kiblat startup dunia selama empat hari. Mereka mengunjungi beberapa perusahaan dan inkubator level dunia seperti Google, Facebook, Code for America, WeWork Transbay, Start X, Startup Weekend, dan GSVLabs. Lalu, apa saja pelajaran yang mereka dapatkan di sana?

Pertama, startup hadir untuk menyelesaikan masalah.

Prinsip startup seyogyanya bertumpu pada keinginan menyelesaiakan masalah dan membantu banyak orang. Hal itu yang kembali didalami tim Delihome setelah berkunjung ke Code for America.

Inkubator tersebut memang dikenal kerap mendorong startup mengembangkan layanan pemerintah untuk diimplementasikan ke masyarakat luas.

Salah satu contoh startup bimbingannya adalah "BlightStatus", yakni aplikasi penyimpanan data masyarakat yang terkena bencana. Tujuannya mempermudah upaya pemerintah menyalurkan bantuan.

"Ini nilai pertama yang harus dimiliki semua pengusaha di Indonesia. Bikin startup itu bukan karena mau mencari uang, tapi untuk menyelesaikan masalah yang ada di Indonesia," kata CFO Delihome James, sebagaimana tertera pada keterangan pers yang diterima Nextren, Jumat (5/2/2016).

Kedua, founder lebih signifikan daripada ide.

Saat berkunjung ke F50 (platform sindikat capital venture) dan Startup Weekend (program 54 jam membuat startup), tim Delihome semakin memahami bahwa peran co-founder adalah peran terpenting dalam mendirikan startup.

Bahkan, co-founder yang tepat lebih penting ketimbang ide startup itu sendiri. Menurut CMO Delihome Lisa, jika ide startup luar biasa bagus, namun tim yang menjalankan buruk, maka mereka tak akan ke mana-mana.

Ketiga, menciptakan budaya kerja yang mumpuni.

Tim Delihome belajar bahwa budaya kerja adalah hal yang konsisten dibangun dua raksasa teknologi, Google dan Facebook. Di Facebook misalnya, nilai "move fast and break things" dipegang kuat. Setiap orang didorong bergerak cepat sehingga menghasilkan sesuatu terus-menerus dengan cepat.

Sementara itu, di Google, mereka memegang prinsip "don't be evil". Semua karyawan diajarkan untuk tidak tamak pada keuntungan, melainkan fokus pada kebutuhan orang yang lebih banyak. Budaya-budaya itu mampu menciptakan branding perusahaan yang kokoh.

Keempat, pentingnya kolaborasi.

Di GSV Labs, Delihome belajar tentag pentingnya kolaborasi seluruh elemen yang dibutuhkan sebuah startup. Mulai dari investor, calon startup, IT support, mentor, hosting company, dan sebagainya.

Diketahui, GSV Labs merupakan sebuah inkubator yang membantu pengusaha berinovasi dalam skala global.

Menurut CEO Delihome Andree, pada dasarnya tak ada yang spesial dari Silicon Valley, dilihat dari segi lokasi. Ia mengatakan lokasi yang gersang dan banyaknya imigran mendorong warga Silivon Valley bekerja lebih keras.

Sementara itu, kata dia, Surabaya memiliki sumber daya alam yang jauh lebih bagus dan seharusnya lebih mudah untuk berkembang.

"Silicon Valley itu hanyalah sebuah tempat biasa, tapi tekad, kemauan, dan mindset penduduk sana lah yang mengubahnya menjadi surga startup dunia,” kata Andree selaku CEO.

Terlepas dari itu semua, tim Delihome yakin semua yang ada di Silicon Valley sebenarnya sudah ada di Surabaya. Antara lain co-working space, program inkubasi, mentor network, dan dukungan pemerintah.

Yang perlu digenjot lebih keras adalah mindset anak muda untuk menyelesaikan masalah. Mereka yakin, anak muda bisa membuat startup solutif dengan menggunakan teknologi untuk dampak yang masif. Bukan hanya ke masyarakat Surabaya, tetapi bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Penulis: Fatimah Kartini Bohang
Editor: Reza Wahyudi
COMMENTS
BERITA LAINNYA
Tali Smartwatch Android Bisa Digonta-ganti dengan Mudah-Scheduler

Tali Smartwatch Android Bisa Digonta-ganti dengan Mudah-Scheduler

Tren, Senin, 31 Juli 2017 | 00:00 WIB

Google Mode adalah sabuk untuk arloji pintar Android Wear yang dirancang supaya mudah dibongkar-pasang. Sabuk pun bisa diganti-ganti dengan dengan cep

Game Buatan Indonesia Ini Laris di iOS dan Android

Game Buatan Indonesia Ini Laris di iOS dan Android

Tren, Rabu, 18 Mei 2016 | 15:05 WIB

Game Warung Chain buatan studio Touchten mencapai peringkat atas di toko aplikasi iOS. Selain itu, game ini juga laris manis di Android.

Hyundai Bikin

Hyundai Bikin "Baju Iron Man" Sungguhan

Tren, Minggu, 15 Mei 2016 | 16:54 WIB

Hyundai membuat baju ala Iron Man. Untuk apa?

Android Baru Asus Ini Dilengkapi TV Tuner

Android Baru Asus Ini Dilengkapi TV Tuner

Gadget, Sabtu, 14 Mei 2016 | 13:46 WIB

Smartphone baru Asus ini berusaha tampil beda. Ia dilengkapi dengan fitur yang dijamin bisa membuat penggunanya nonton siaran televisi lokal di mana saja.

Fuze Tomahawk F1, Konsol Campuran PS4 dan XBox One

Fuze Tomahawk F1, Konsol Campuran PS4 dan XBox One

Gadget, Kamis, 12 Mei 2016 | 17:55 WIB

Fuze merilis sebuah konsol baru bernama Tomahawk F1. Uniknya, konsol tersebut ternyata merupakan gabungan dua produk terpopuler saat ini, yakni Sony PlayStation 4 (PS4) dan Microsoft XBox One.

Xiaomi Resmi Rilis Mi Max, Punya Layar Berukuran Jumbo

Xiaomi Resmi Rilis Mi Max, Punya Layar Berukuran Jumbo

Gadget, Rabu, 11 Mei 2016 | 12:30 WIB

Xiaomi resmi merilis Mi Mas, smartphone Android bertubuh bongsor. Selain ukuran layarnya yang besar, produk ini juga punya baterai jumbo.

Ingin Bangun Ruang "Gaming" di Rumah? Ini Tipsnya

Tren, Minggu, 28 Februari 2016 | 16:01 WIB

Ini 10 Aplikasi Penguras Baterai Android

Tren, Rabu, 28 Oktober 2015 | 11:17 WIB